Sunday, August 01, 2004

Pepatah Cinta # 1

Rima nama gadis itu. Sekarang ia sedang menjalani perkuliahannya di salah satu universitas swasta di Bandung. Sebenarnya ia berasal dari Jakarta, namun karena sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Bandung, maka 3 tahun yang lalu ia berangkat dan mulai tinggal di Bandung, meninggalkan ayah ibunya serta kakak laki-lakinya di Jakarta. Rima sampai sekarang masih saja jomblo, alias tidak punya pacar, tapi nampaknya ia baik-baik saja dengan keadaan tersebut. Rima sebenarnya tidak jelek juga wajahnya, bisa dibilang ia cukup manis dengan kuilt sawo matangnya. Lalu tubuhnya juga dapat dikatakan ideal dengan tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Ia selalu bersikap ramah terhadap semua orang. Temannya banyak sekali, baik yang di kampus maupun yang di tempaat kos-annya. Dan lagi ia termasuk salah satu mahasiswi yang selalu lolos ujian dengan nilai IP cum laude, sebab IP nya tidak pernah kurang dari 3,5.
* * *
Jadi bukankah aneh mengetahui bahwa gadis sesempurna Rima bahkan hingga usianya hampir mencapai 21 tahun belum juga punya pacar? Apa karena Rimanya sendiri yang tidak tertarik dengan pria manapun ataukah belum ada yang cocok? Jawabannya tidak, karena sebenarnya Rima sedang mencari-cari pacar, ada beberapa yang disukainya juga. Tapi tidak seorang pun dari deretan pria-pria itu yang pernah meminta Rima untuk menjadi pacarnya, bahkan belum ada satupun yang pernah menyatakan perasaan suka atau sayang. Sebenarnya masalahnya sangat sederhana, hanya karena Rima seorang maniak buku.
* * *
Biasanya pada malam minggu, para remaja melarikan diri dari tempat tinggalnya menuju ke tempat-tempat nongkrong, mereka menghabiskan malam mingguan merka dengan hang-out atau kumpul bareng teman-temannya. Tapi lain dengan Rima, ia memilih tinggal di kamar kos-annya. Sore itu, sekitar jam 5.30 PM, Rima sedang tidur-tiduran di kasurnya sambil membaca sebuah novel yang baru ia beli siang harinya. Sedang asik membaca, saat akan masuk bagian klimaksnya, tiba-tiba pintu kamarnya terdengar ada ketukan yang mengganggu konsentrasi membacanya. Akhirnya dengan terpaksa, ia menyelipkan pembatas buku dari plastik bergambar kero-keropi (suatu karakter kodok dari produk SanRio~Jepang) ke halaman yang sedang ia baca dan buru-buru membukakan pintu untuk tamunya.
* * *
Pintu terbuka, ia melihat ada seorang pria yang lebih tinggi 10 cm dari dirinya mengenakan cardigans coklat dan jeans. Penampilan pria itu cukup keren bagi Rima.
* * *
"Selamat sore, Rima!" sapa pria tadi dengan sopannya.
* * *
"Hei, Zic!" balas Rima, "Eh, ayo masuk ajah, gak pa-pa kok!"
* * *
Kemudian Zico pun masuk ke kamar Rima dengan perasaan ragu-ragu, sesampainya di dalam kamar, ia pun menyampaikan keraguannya pada Rima, "Rim, yakin nih gak pa-pa gue masuk ke kamar lo? Umm... maksud gue, yah lo taulah, nanti gimana kata orang-orang kalo ngeliat cowo main ke kamar cewe?"
* * *
"Cuek aja lah!" jawab Rima, lalu tersenyum manis. Zico nampaknya terpesona dengan senyum paling manis yang pernah dilihatnya itu.
* * *
"Jadi? Ada perlu apa nih tiba-tiba dateng?" tanya Rima, ia kini duduk di kasurnya sementara Zico duduk di sofa yang tepat di seberang kasur.
* * *
"Umm... gak ada apa-apa sih sebenernya, gue cuman mau... Umm... ngajakin lo makan malem. Yah, itu pun kalo elo mau loh..."
* * *
"Wah, makasih banget loh! Gue soalnya masih belum tau malem ini mau makan apa. Ok, bentar yah, gw mau ganti baju dulu dan sementara gue siap-siap elo nunggu di ruang utama lantai bawah aja, ok?"
* * *
"Ok! Gue tunggu di bawah yah, jangan lama-lama!" Lalu Zico pun menunggu di bawah.
* * *
Rima mulai mengganti kaosnya dengan T-shirt lengan buntung warna coklat muda dan mengganti celana pendeknya dengan celana jeans 3/4 warna hitam dan mulai berdandan. Ia nampak semakin manis setelah dipolesi oleh make-up tipis warna pink. Lalu ia segera mengambil tas selempangannya dari dalam lemari dan memasukan segala keperluannya, mulai dari tissue sampai novel yang barusan ia baca. Dan setelah mengecek semuanya, ia keluar dan mengunci pintu kamarnya lalu menuju ke tempat Zico sedang menunggunya.
* * *
"Hai! Sori kalo lama! Jadi, kita makan di mana nih?" tanya Rima.
* * *
"Tau Cafe The View gak?" tanya Zico.
* * *
"Tau, emang kenapa?"
* * *
"Iyah kita makan di situ, ok kan?"
* * *
"Oh, ok ok aja!" jawab Rima. Dan mereka pun menuju cafe tujuan dengan mobil Zico. Sepanjang perjalanan mereka berdua mengobrol terus, perjalanan menjadi begitu menyenangkan dan terasa lebih cepat sampai di tujuan.
* * *
Sesampainya di depan cafe The View, "Wow! Zic, elo dah pernah ke sini sebelumnya yah? Gila, nih tempat keren banget!" seru Rima kagum, matanya nampak berbinar-binar.
* * *
"Pernah sih sekali waktu itu bareng sama Jeremy segala!" jawabannya Zico terpotong oleh datangnya seorang waiter yang menunjukkan tempat bagi mereka berdua. Mereka memilih meja di luar, dengan menghirup angin malam yang sejuk serta dapat sekalian memandang sebuah pemandangan paling indah. Dari sana mereka dapat melihat kerlap-kerlip lampu di seluruh Bandung. Meja mereka berdua pun diterangi sebuah nyalanya cahaya lilin yang membuat suasana menjadi agak hangat dalam dinginnya udara malam. Sebuah lagu mengalun merdu dari bibir seorang penyanyi cafe yang panggungnya terletak di sudut dalam ruangan.
* * *
"Pantes ajah kalo namanya "The View" pemandangannya indah banget kok!" seru Rima lagi.
* * *
"Iya, romantis yah?" kata Zico pelan. Nampaknya Rima tidak memperhatikan ucapan Zico yang barusan karena terlalu sibuk dengan pemandangan yang sedang diamatinya dengan penuh rasa takjub. Tak lama kemudian, waiter yang tadi datang kembali ke meja mereka, membawa buku menu dan mengambil pesanan.
* * *
"Rim, udah pernah jadian belum?" tanya Zico iseng, tapi ia bertanya sambil melemparkan pandangannya ke lampu-lampu di dalam ruangan. Ia sedikit tersenyum.
* * *
Ternyata saat waiter tadi sudah mengambil pesanan mereka, Rima cepat-cepat mengeluarkan novelnya tadi dan kembali hanyut dalam arus ceritanya, hingga tidak mendengar dengan jelas apa yang barusan diucapkan oleh Zico, "Eh, apa? Sorry, lagi seru sih bacanya. Bentar yah!" Dan Rima melanjutkan kegiatan membacanya lagi.
* * *
Rupanya kata "sebentar" dalam ucapan Rima tidak sesebentar seharusnya. Bahkan hingga saat sedang makanpun, matanya tidak lepas dari tulisan-tulisan yang ada dalam buku yang dipegangnya.
* * *
Sungguh kasihan Zico, ia ditinggalkan terdiam dan terbengon-bengong sendiri dari tadi. Awalnya tergambar rupa bingun di wajahnya, namun berangsur-angsur semakin jelas nada kekesalan (BT) dan kebosanannya dalam air mukanya. Kata-kata terakhir yang ia dengar terlontar dari mulut Rima adalah "Selamat makan" yang diucapkannya sesaat sebelum mereka melahap makan malamnya masing-masing.
* * *
Saat kembali ke dalam mobil, Rima baru mulai unjuk suaranya lagi, "Eh, Zic, tadi lo ngomong apa yah?" tanya Rima polos.
* * *
"gak ada apa-apa kok! Gak penting, cuman basa-basi!"
* * *
"Ooh... Makanannya gak terlalu enak yah?" tanya Rima lagi.
* * *
"He-eh. Eh, sorry, gue jangan diajak ngobrol dulu yah, mesti konsentrasi ke jalanan dulu nih. Udah makin gelap sih." kata Zico dengan nada sedikit meninggi.
* * *
Rima merasa bingung dengan ucapan Zico barusan. Zico sepertinya marah pada dirinya, namun ia tidak mengerti apa alasannya. Sesaat Rima seperti mendengar gumaman tidak jelas terlontar dari mulut Zico. Kedengarannya seperti, "Bahkan mungkin lo gak ngerasain rasa makanannya!" Tapi Rima tidak mau ambil pusing, sebab gumaman itu pun tidak jelas terdengarnya. Maka perjalanan pulang diisi dengan suasana hening.
* * *
Sesampainya di depan pagar kos Rima, Zico akhirnya mengeluarkan suaranya, "Ok, Rim, sampe di sini aja yah! Sori gak ikut sampe dalem. Gue harus buru-buru pulang nih!"
* * *
"Iya, gak pa-pa kok!" Lalu Rima pun turun dari mobil dan lalu sedikit membungkukkan badannya agar matanya dapat memandang Zico melalui kaca jendela mobil, "Thanks for the dinner yah, Zic!"
* * *
"Sama-sama! Gue cabut dulu yah! Bye!"
* * *
"Bye! Hati-hati di jalan yah!" balas Rima. Seketika itu mobil Zico kembali melaju pergi, semakin jauh dan hilang dari pandangn Rima. Dan karena sudah malam, Rima segera kembali ke kamarnya, membersihkan diri dan segera tidur.
* * *
Sudah sebulan sejak Zico mengajaknya untuk makan malam dan belum ada seorang pria pun yang mengajaknya untuk keluar lagi. Namun Rima kembali ke keadaan semula, biasa-biasa saja perasaannya. Tetapi ada kalanya Rima merasa penasaran kenapa sejak malam itu, Zico nampak selalu menghindarinya. Apakah Zico masih marah? Tapi mau seberapa besarnya kemarahan Zico, Rima kan tidak bisa minta maaf tanpa tahu apa salahnya.
* * *
Suatu hari, rasa rindu Rima untuk hang out bareng cowo muncul. *kangen mode on* Ia menghampiri Eddy dengan seluruh rasa percaya dirinya, “Ed, besok malem ada acara gak?”
* * *
“Nope! Emangnya kenapa?”
* * *
“Umm... mau pergi bareng gue gak?”
* * *
“Ke mana? Ke ondangan?”
* * *
“Bukan sih, temenin gue makan ajah. Sepi makan sendiri mulu! Ayo dong, entar gue yang bayar deh!” Rima memohon pada Eddy.
* * *
“Dinner maksud lo? Ogah ah! Ntar gue dicuekin!” tolak Eddy santai.
* * *
“Hah? Enggaklah, masa gue nyuekin elu? Kan gue gak bareng pacar, yah walaupun gue gak punya pacar sih.”
* * *
“Loh, bukannya punya?” tanya Eddy.
* * *
“Hah? Kata siapa coba? Gue gak pernah jadian gitu!”
* * *
“Kata Zico!” jawab Eddy santai, tapi kemudian ia sadar bahwa barusan ia telah kelepasan bicara, “Upss....”
* * *
Muka Rima menjadi merah, berbagai pikiran macam-macam memasukinya. Tanpa berpikir panjang ia langsung mencari Zico dan ditemuinya ia sedang duduk-duduk di kantin bersama sekumpulan orang, nampaknya sedang mendengarkan pidatonya. Entah apa yang sedang ia baca, Rima dengan cepat mendekati kerumunan orang itu dan berhasil mencuri dengar kata-kata Zico.
* * *
“Gila yah tuh cewe! Pacaran sama buku kali yeee!” ujar Zico. Dan lalu yang lainnya tertawa mendengarnya.
* * *
Rima tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Zico, tapi ia sadar bahwa ada sesuatu yang harus disampaikannya kepada Zico. Maka ia memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya dengan keras, “Zic! Gue perlu bicara sama lo!”
* * *
Mendengar suara Rima, lantas seluruh orang di meja itu menengok dari datangnya suara.
* * *
Zico angkat suara, “Oh, ada apa tuan putri? Langsung aja bicara di sini.”
* * *
“Ok! Gue pengen tau, kenapa lo bilang ke Eddy kalau gue udah punya pacar? Apa....umm... apa gara-gara itu lo ngejauhin gue? Gara-gara lo taunya gue udah punya cowo?” tanya Rima keras namun ragu-ragu.
* * *
Seketika itu, seluruh orang di depan Rima tertawa kencang. Rima menjadi malu.
* * *
“Haha.... mana mungkin gue mau sama elo, Rim! Yang logis aja deh! Terus emangnya ada apa dengan Eddy? Mau lo jadiin korban juga yah? Untung udah gue peringatin duluan!”
* * *
“Maksud lo apa sih? Gue gak ngerti!” ketus Rima.
* * *
“Ok, gue bilangin aja yah nona kutu buku. Gue itu muak sama semua tingkah laku lo malam itu. Semalaman itu juga elo nyuekin gue dan malah pacaran sama novel lo itu! Udah ngerti sekarang? Puas?! Jadi cewe tuh tau diri dikit dong!” ucap Zico kencang.
* * *
Tiba-tiba saja mata Rima penuh dengan ari mata dan mulai tumpah butir demi butir. Rima merasa sangat malu, kesal dan juga sedih. Kini ia mengerti mengapa tidak ada pria lain lagi yang mendekatinya setelah Zico. Semua itu karena Zico yang dengan teganya telah menyebarkan cerita tersebut kepada hampir seluruh isi kampus, sama seperti yang telah ia curi dengar tadi.
Zico langsung pergi setelah melihat Rima menangis, begitu pula dengan orang-orang yang berkerumunan tadi. Rima dibiarkan terdiam di sana, duduk dan menangis sampai air matanya abis.
* * *

0 Comments:

Post a Comment

<< Home